Singkong

Budidaya Singkong
Indonesia merupakan daerah yang potensial untuk mengembangkan budidaya singkong, karena beriklim tropis dan memiliki curah hujan yang cukup. Dengan bantuan tekhnologi, singkong dapat menjadi bahan dasar industri mkanan dan bahan baku industri pakan, selain itu baru – baru ini sedang dikembangkan bahan bakar yang berasal dari singkong yang disebut dengan nama Biofuel atau Bioetanol.
Syarat Pertumbuhan
Iklim, Curah hujan antara 1.500 – 2.500 mm/tahun. Tanah berstruktur gembur, tidak terlalu liat dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organic, dengan pH 4,5 – 8,0 pH ideal 5,8. Ketinggian tempat 10 – 700 m dpl dengan toleransi mencapai 1.500 m dpl (Jenis singkong tertentu ).
Pedoman Budidaya
Syarat bibit, berasal dari tanaman induk yang berusia 10 – 12 bulan, batangnya telah berkayu dan berdiameter 2,5 cm, bibit berupa stek batang (bawah sampai tengah).
Pengolahan Lahan, bertujuan untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan untuk menghilangkan tumbuhan inang bagi hama penyakit yang mungkin ada.
Pengolahan dapat dengan cara dibajak atau dicangkul. Buat bedengan dengan pola tanam 1×1 m atau 1 x 0,6 m atau 1 x 0,4 m. Bila sistem tumpang sari 1,5 x 1 m atau 3 x 1,5 m .
Pada lahan yang bersifat asam, berikan kalsit/kaptan dengan Dosis 1 – 2,5 ton/ha. Berikan saat pembajakan.
3 hari sebelum tanam, Berikan pupuk Raja TPH pada bedengan – bedengan, tahap ini diperlukan 2 zak Raja TPH/Ha.
10 hari setelah tanam berikan campuran pupuk kimia yang terdiri dari Urea sebanyak 35 kg, TSP sebanyak 50 kg, dan KCL sebanyak 35 kg. Perlu diingat penanaman dilakukan saat masuk musim penghujan.
Pengulangan pemberian pupuk
Setelah tanaman berumur 2,5 bulan, lakukan pemberian pupuk campuran yang terdiri dari 65 kg Urea dan 65 kg KCL yg di aduk rata dengan 3 zak pupuk Raja TPH, berikan pada sekitar perakaran sebanyak 25 gram per pohon ( Asumsi 1 Ha terdapat 6000 pohon ).
Pemupukan
Konvensional. Pemupukan dilakukan dengan sistem pemupukan berimbang antara N, P, K dengan Dosis Urea = 133 – 200 kg ; TSP = 60 – 100 kg dan KCL = 120 – 200 kg. Pupuk tersebut diberikan pada saat tanam dengan Dosis N : P : K =1/3 : 1 : 1/3 ( pemupukan dasar ) dan pada saat tanaman berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N : P : K = 2/3 : 0 : 2/3
Catatan : metoda pemupukan sangat bergantung dengan tingkat kesuburan tanah masing masing tempat

Pos ini dipublikasikan di Budidaya Tanaman Pangan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s